Menantang Matahari di Rute Pertempuran Lima Hari di Semarang

Hai, Teman Jalan!

Semoga kalian selalu sehat, ya!

Minggu, 17 Oktober 2021 saya ikut jalan pagi rute spesial Pertempuran Lima Hari di Semarang. Rute ini menjadi spesial karena rute tematik yang diadakan satu kali setiap tahun. Jelas kalau peminatnya banyak. Perlu persiapan mengamankan kuota Teman Jalan kalau ingin ikut rute spesial tematik seperti ini. Biasanya rute spesial yang diadakan itu seperti Ereveld Kalibanteng, Ereveld Candi, Pertempuran Lima Hari di Semarang, dan lainnya. Koreksi, ya. Saya sendiri baru pertama kali ikut Pertempuran Lima Hari di Semarang, hehe.

Semarang Walking Tour
PERTEMPURAN LIMA HARI DI SEMARANG

Rute: titik temu Taman Pandanaran ➝ Jl. M. H. Thamrin ➝ Batan ➝ Kali Semarang ➝ Kantor DAOP IV KAI Semarang ➝ Kantor Pertamina ➝ Jl. Pierre Tendean ➝ Pendrikan ➝ Tugu Muda ➝ Hotel Dibya Puri Johar

Sebenarnya rute pendek tapi cuaca panas menyengat 33℃, Semarang itu kotanya gerah (sumuk) ditambah cuaca dengan temperatur seperti itu, ya, jalan-jalannya seperti menantang matahari. Lumayan tertolong dengan naik bus BRT Trans Semarang dari Halte Udinus ke Hotel Dibya Puri Johar. Jelas baju saya basah kuyub karena keringat, hehe, saya mudah berkeringat.

Kantor DAOP IV KAI Semarang

Kantor DAOP IV KAI Semarang
Foto: dokumentasi pribadi

Di sini dijelaskan bahwa para tentara Jepang yang berkumpul untuk mengamankan diri dari para pemuda Semarang justru mendapat serangan. Banyak tentara Jepang terbunuh di kantor ini.

Jalan Pierre Tendean

Area Jalan Pierre Tendean
Foto: dokumentasi pribadi

Jalan Pierre Tendean disebutkan bahwa di jalan ini terdapat tempat tinggal pahlawan Nasional kita yaitu Pierre Tendean yang terkenal dengan ketampanannya. Sayang, tempat tinggal beliau tidak diketahui secara pasti berada di titik mana di sepanjang jalan ini.

Pendrikan

Yang unik dari Pendrikan adalah nama jalannya yang diambil dari nama daerah ini yang dahulu bernama Prince Hendrik Land. Kebiasaan orang Jawa kalau nama-nama yang susah diucapkan atau terlalu panjang jadi sering terdengar dengan nama yang lain jadinya Pendrikan. Saya baru tahu kalau nama Pendrikan diambil dari nama Prince Hendrik Land 😁

Dari penjelasan tentang Pertempuran Lima Hari di Semarang ini sebenarnya yang rugi tidak hanya warga Semarang  tetapi orang-orang Belanda yang berdomisili di Semarang pada masa itu juga terkena imbasnya. Warga Semarang dan Belanda mengalami imbas peperangan, mereka dijadikan interniran dan ditahan di penjara. Saat itu penjara Bulu masih berfungsi sebagai penjara untuk interniran. Di sini juga terjadi pembantaian terhadap warga sipil Semarang dan Belanda karena merasa tempat ini aman sehingga mereka sedikit abai akan keselamatan nyawa mereka.

Tugu Muda

Tugu Muda
Foto: dokumentasi pribadi

Saya dan teman-teman grup menyeberang ke Tugu Muda seperti menuju pusat tata surya kota Semarang, panas banget seperti main di Matahari. Keunikan dari Tugu Muda sendiri adalah terdapat relief Pertempuran Lima Hari di Semarang yang menggambarkan situasi dan kondisi selama masa pertempuran. Kalau dikatakan Tugu Muda sebagai titik pusat pertempuran juga masih belum tepat karena pertempuran tersebut terjadi di banyak titik di kota Semarang.

"Tiada perang yang mengakhiri peperangan"

Perang itu tidak ada yang menguntungkan sama sekali hanya kerugian yang didapat dari kedua belah pihak dan memang benar dampak perang itu tidak hanya rugi secara ekonomi tapi nyawa manusia.

Mbak Alif-Story teller Bersukariawalk
Foto: dokumentasi pribadi

Terima kasih mbak Alif yang sudah menjadi story teller di rute ini, hehe, mbak Alif jadi punya pengalaman naik BRT Trans Semarang 😁. Teman Jalan bisa ikut rute ini dengan memesan private tour jika tidak ingin menunggu rute spesial ini di tahun berikutnya.

Yuk, jalan!


Speak Yourself
💜

Komentar