Jalan-jalan Belajar Multikultural di Semarang

Guys, semoga kalian selalu menjaga kesehatan, ya! Cuaca Semarang akhir-akhir ini tidak bisa ditebak bikin kesehatan menurun.

Minggu, tanggal 5 Mei 2019 libur kuliah lagi (sering-sering ya, bu, kuliahnya libur, hehe) jadi saya punya kesempatan ikut walking tour. Begitu Bersukariawalk mengunggah jadwal walking tour bulan Mei saya langung daftar dua rute yaitu Rute Multikultural dan Rute Radja Goela.

Kali ini cuaca panas di Semarang tidak bisa diajak tawar-menawar, puanase pol!. Saya sudah mengira-ngira kalau rute terpanjang kali ini dengan bonus cuaca panas harus bawa air minum dua kali lebih banyak dari biasanya dan bawa satu kaos lagi untuk berganti karena saya mudah berkeringat apalagi dengan hawa panasnya Semarang. Kalau ditanya kuat, ya kuat cuma kali ini panasnya bikin badan gampang lelah.

Semarang Walking Tour

MULTIKULTURAL

Rute Multikultural adalah rute terpanjang Bersukariawalk cukup sepanjang jalan kenangan ± 6 Km, kalian tidak salah baca. Rute yang mantap, mantap jauhnya berjalan kaki dan mantap objek-objeknya untuk belajar budaya yang berbeda. Banyak objek yang kita kunjungi di sepanjang rute Multikultural tapi saya hanya akan berbagi cerita tentang objek-objek yang membuat saya tertarik. Bukan berarti objek lain tidak menarik tapi saya ingin menceritakan objek yang jarang diceritakan atau didengar oleh orang lain.

Rute Multikultural: titik temu di Kantor Pos Besar Johar ➝ Titik Nol Kilometer Semarang ➝ Jembatan Berok ➝ Gedung Bank Jateng ➝ Hotel Oewa Asia ➝ Masjid Layur ➝ Studio Seni Foto Gerak Cepat di Layur ➝ Java Hout & Lindeteves Stokvis di Bandarharjo ➝ Gereja Santo Yusuf Gedangan ➝ Gereja Blenduk ➝ Masjid Pekojan ➝ berakhir di Klenteng Tay Kak Sie.

Bagaimana rutenya? Mantap? Ahay!😄Semoga rincian rute Multikultural tidak menyurutkan semangat kalian untuk ikut walking tour. Anggap saja kalian sedang keliling dunia di Semarang. Tenang, ada waktu istirahat untuk peserta. Kami mampir membeli bekal tambahan di minimarket Kota Lama. Istirahat dan makan bekal di Taman Srigunting sebelum meneruskan perjalanan ke Pekojan dan Klenteng Tay Kak Sie.

Titik Nol Kilometer Semarang

Ayo, siapa yang selalu bilang atau terpikirkan kalau titik nol kilometer Semarang lokasinya di Tugu Muda atau Simpang Lima? Cung! Yakin di sana? Maaf, kalian salah 😁 Coba tebak lagi. Belum menemukan jawaban? Saya beri petunjuk lewat foto di bawah ini:

Foto: dokumentasi pribadi

Sudah tahu dimana? Bagus! Lokasi titik nol kilometer Semarang berada di taman seberang Gedung Keuangan Negara Semarang/Gedung Papak. Jangan salah lagi ya menganggap titik nol kilometer Semarang berada di Tugu Muda atau Simpang Lima.

Mohon abaikan gundukan tanah di foto itu, mungkin tamannya sedang dipercantik lagi. Kalau suatu saat taman titik nol kilometer ini jadi lebih rapi dan cantik mohon jangan mengotori dan merusak properti, ya, teman-teman.

Jembatan Berok

Orang Semarang kalau mengucapkan Jembatan Berok dengan dialek Semarangan jadi Jembatan mBerok. Main tebak-tebakan lagi, mana jembatan Berok yang asli? Kalau dari arah jalan Pemuda, apakah di sisi kanan atau kiri? Belum tahu? Atau jangan-jangan kalian selama ini salah mengira? Baik, saya beri tahu kalian lewat foto di bawah ini:

Jembatan Berok
Foto: dokumentasi pribadi

Jembatan dengan konstruksi yang masih asli adalah jembatan di sebelah kanan yang satu garis lurus dengan jalan utama Kota Lama. Jalan utama Kota Lama yang ramai itu bagian dari proyek jalan Daendels, lho. Masih ingat 'kan Daendels bangun jalan dari Anyer sampai Panarukan? Salah satu titik rute jalan Daendels tersebut melewati Kota Lama Semarang.

Jaman dulu sebelum Kali Semarang mengalami pendangkalan seperti sekarang ini, perahu-perahu dagang bisa melewati kali ini untuk mengangkut komoditi mereka. Kalian bisa membayangkan Venesia dengan perahu-perahu gondolanya melewati kanal-kanal, maka sama seperti halnya di Kali Semarang pada jaman dulu. Apakah ada niat untuk dikembalikan fungsinya seperti dulu atau difungsikan untuk wisata transportasi air? Hm... perlu ditinjau dan dikaji ulang oleh ahli.

Hotel Oewa Asia

Hotel Oewa Asia
Foto: dokumentasi pribadi

Hotel Oewa Asia berada di jalan Kolonel Sugiono yang selalu kita lewati kalau ke arah Layur. Hotel ini sudah ada sejak jaman pendudukan Belanda, sempat dikuasai oleh Jepang dan menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pada jaman pendudukan Belanda hotel ini hanya bernama Hotel Oewa lalu saat dikuasai oleh Jepang ditambah dengan kata 'Asia' maka jadilah nama Hotel Oewa Asia. Kata 'Oewa' memiliki arti 'baik'.

Maaf, foto perbandingan dulu dan kini saya ambil dari sudut yang berbeda karena saya dan teman-teman mempertimbangkan ramainya lalu lintas di perempatan jalan Kolonel Sugiono dan trotoar yang tidak nyaman untuk pejalan kaki. Kami memutuskan untuk mengambil perbandingan fotonya dari seberang hotel.

Foto: dokumentasi pribadi

Ada cerita kelam tentang hotel ini, cerita yang tak sebaik nama hotelnya pada masa pendudukan Jepang. Pada waktu itu banyak orang yang mencari tenaga kerja wanita dengan cara mengiming-iming mereka bekerja sebagai penatu, house keeping, cleaning service dan posisi lainnya di Hotel Oewa Asia. Pekerjaan tersebut banyak diminati oleh para wanita yang membutuhkan pekerjaan sehingga tanpa banyak berpikir mereka setuju untuk bekerja di hotel ini.

Namun sayangnya, pekerjaan yang ditawarkan jauh dari kenyataan karena para wanita tersebut dijebak untuk dijadikan pekerja seks bagi tentara-tentara Jepang, lebih tepatnya sebagai budak seks yang dipaksa melayani para tentara Jepang.

Saya pernah membaca buku juga mengenai kekejaman tentara-tentara Jepang terhadap wanita-wanita yang dijadikan budak seks (juugun ianfu), tidak hanya dengan cara mengiming-iming mereka dengan pekerjaan tapi menangkap paksa mereka yang sedang berjalan-jalan, bersepeda, atau berkegiatan lain lalu diangkut menggunakan truk menuju 'klub' tentara-tentara Jepang.

Cerita yang kelam ini bisa menjadi bahan pembelajaran kita untuk lebih menghargai pribadi manusia, memanusiakan manusia dan perang itu tidak ada untungnya sama sekali.

Studio Seni Foto Gerak Cepat di Layur

Gerak Cepat? Foto-foto sambil lari? Terburu-buru? Bukan.

Studio foto ini dikenal dengan kecepatan cetak foto pada masanya. Pada umumnya dibutuhkan waktu 2 minggu untuk bisa melihat hasil foto di studio lainnya tapi tidak dengan studio foto ini karena di studio foto ini hanya membutuhkan waktu satu jam saja. Seakrang disebut cetak kilat, bisa ditunggu. Bisa kalian bayangkan dengan sistem pencetakan foto kilat bisa membuat studio foto ini terkenal dan dikunjungi lebih banyak konsumen pada masanya.

Studio foto ini didirikan sekitar tahun 1964 oleh Ali Mahroos. Saya tertarik dengan studio ini karena melihat dari sejarahnya saya bisa membayangkan bagaimana era gemilang studio foto dan percetakan foto manual (cetak foto dari rol film) dengan perlahan menghilang tergantikan dengan masa foto digital. Tantangan studio foto dengan sistem manual jika tidak mengikuti perkembangan dunia digital memang akan meredup dan tidak berkembang lebih jauh. Pilihannya hanya mengikuti arus perkembangan atau mati di tempat.

Studio Seni Foto Gerak Cepat mengalami masa kejayaan pada tahun 1980an lalu tergerus dengan era foto digital, keturunan pendiri pun tidak tertarik untuk meneruskan bisnis tersebut sehingga studio foto ini tutup. Sekarang studio foto ini beralih bisnis menjadi sanggar rias pengantin.

Studio Foto Gerak Cepat
Foto: dokumentasi pribadi

Menurut storyteller, Nadin, studio foto ini dikenal sebagai saksi kisah cinta antara Anak Buah Kapal (ABK) dengan wanita lokal. Uhuy~ Kok bisa? Ya, bisa. Apa sih yang tidak bisa dilakukan demi cinta, hehe.

Lokasi studio foto ini strategis karena berada dekat dengan pelabuhan dimana banyak kapal bersandar dan para ABK memiliki waktu singgah di Layur dan sekitarnya. Jika ada kapal bersandar, para ABK memiliki waktu rekreasi yang singkat sehingga mereka berusaha mengencani wanita lokal.

Waktu rekreasi yang sangat singkat mendorong mereka agar dapat membuat kenangan satu sama lain dengan berfoto bersama di studio Seni Foto Gerak Cepat. Jika tidak bisa berfoto bersama, para ABK berfoto sendirian lalu menitipkan foto tersebut untuk wanita yang dikencaninya kepada pemilik studio. Salah satu cara jaman dulu bertukar foto mungkin terkesan lama dan merepotkan, berbeda dengan jaman sekarang yang sekali tekan sudah bisa terkirim lewat aplikasi.

Saya mendapat informasi dari sumber lain bahwa studio foto ini memiliki latar belakang foto dengan lukisan pada dinding, sepetak taman bunga di belakang rumahnya, dan sudut-sudut lain di rumahnya dihias agar terlihat natural dan bagus untuk dijadikan latar belakang foto. Ide-ide unik yang dimiliki pemilik dapat meningkatkan kualitas pelayanan yang baik bagi para konsumen.

Foto: dokumentasi oma Nani, 2019.

Kawasan Pecinan

Kalau kalian masuk kawasan Pecinan melalui jalan Pekojan atau lewat jalan Petolongan, tepat di depan Masjid Pekojan ada tanda seperti ini di dinding:

Batas Kawasan Pecinan-Pekojan
Foto: dokumentasi pribadi

Menurut Nadin, tanda tersebut adalah tanda batas pemakaman orang Tionghoa dan sebagai tanda batas kawasan Pecinan. Area tersebut sangat dekat dengan area pemakaman Islam dengan tanda batas Masjid Pekojan. Tinggal keluar beberapa langkah dari Masjid Pekojan sudah sampai di kawasan Pecinan. Apakah menimbulkan masalah? tidak ada masalah sama sekali dari dulu sampai sekarang.

Oh iya, pasti kalian juga penasaran kenapa ada Pecinan, itu terjadi karena ada alasan yang melatarbelakanginya. Belanda dulu menerapkan aturan wijkenstelsel dan passenstelsel. Nanti saya ceritakan lain waktu khusus tetang kawasan Pecinan 😉

Rute Multikultural Semarang menjelajahi tempat-tempat dengan latar belakang budaya etnis dan keyakinan yang berbeda mengajarkan bahwa kita dapat hidup dalam harmoni dengan menghormati perbedaan tanpa perdebatan. Contohnya Semarang dari dulu memiliki penduduk dari etnis dan keyakinan yang berbeda-beda tapi tetap hidup harmonis sampai sekarang. Tidak hanya itu, Semarang berkembang karena adanya jalur perdagangan yang memudahkan para pedagang dari Tiongkok, Yaman, Arab, India dan Melayu untuk berdagang bahkan menetap di Semarang. Dari kegiatan berdagang dan menetap maka terjadilah proses akulturasi budaya luar dan lokal.

Fun fact!

Teman-teman pernah melihat bangunan separuh seperti ini? Ini bukan sengaja dibangun separuh dari awal. Bangunan ini berada di jalan Suari dekat Kota Lama.

Foto: dokumentasi pribadi

Kurang estetik di pandang mata tapi memang seperti itu adanya. Bangunan aslinya adalah gedung beratap genting tanah liat. Bangunan ini dulunya satu bangunan utuh, bisa menjadi separuh karena dulu orang membeli bangunan bisa dengan ukuran sepertiga, seperempat, setengah, dan seterusnya dari bangunan asli. Jadi separuh bangunan tersebut dibeli lalu didirikan gedung baru.

------------

Tips untuk kalian yang tertarik ikut rute Multikultural rute terpanjang dengan cuaca Semarang yang tidak bisa ditebak:

  • Pakai baju dan sepatu yang nyaman
  • Bekal cemilan dan air minum sesuai kebutuhan
  • Bawa kaos cadangan bagi yang mudah berkeringat dan kulitnya mudah gatal-gatal kalau terlalu lembab
  • Pastikan kalian sudah makan dulu sebelum mulai jalan-jalan. Jangan sampai pingsan, tidak ada yang menggendong... bercanda deng!
  • Kenali kesehatan badan kalian. Kalau sudah tidak kuat lebih baik berhenti, kesehatan kalian lebih berharga, guys!
  • Terakhir nih kalau kalian sama sekali belum pernah ikut walking tour, lebih baik ikut dulu rute pendek jadi suatu saat nanti ikut rute Multikultural atau rute terpanjang lain tidak kaget

Ikut rute Multikultural memang jadi pengalaman tersendiri anggapannya sekali jalan banyak objek yang bisa kita kunjungi, memang resiko kaki pegal. Apakah saya akan ikut rute Multikultural lain waktu? Sepertinya ambil rute lain dulu, haha. Walau saya sudah biasa berjalan kaki dan ikut jalan-jalan begini tapi tetap saja saya tidak sekuat orang lain.

Kita bertemu di cerita jalan-jalan selanjutnya, ya!
Yuk, jalan!




Speak Yourself
💜